Sabtu, 03 Oktober 2009

Pilih Gigi Palsu Sesuai Kondisi Anda

Banyak jenis gigi pengganti atau gigi palsu yang ditawarkan dokter gigi. Ada yang bisa dilepas dan dipasang oleh pasien, ada pula yang tidak dapat dilepas/dipasang oleh pasien.

Masing-masing jenis gigi memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam tulisan ini akan diuraikan kekurangan dan kelebihan setiap jenis gigi tiruan.

Gigi tiruan lepasan akrilik

Gigi tiruan akrilik merupakan gigi tiruan yang paling sering dan umum dibuat pada saat ini, baik untuk kehilangan satu atau seluruh gigi. Gigi tiruan ini mudah dipasang dan dilepas oleh pasien. Bahan akrilik merupakan campuran bahan sejenis plastik yang manipulasinya mudah, murah, ringan dan bisa diwarnai sesuai dengan warna gigi dan warna gusi. Akan tetapi mudah menyerap cairan dan juga mudah kehilangan komponen airnya. Sehingga bila tidak dipakai, gigi tiruan akrilik harus direndam dengan air dingin supaya tidak mengalami perubahan bentuk. Gigi akrilik pun mudah terpengaruh perubahan warna. Misalnya warna dari makanan dan minuman, sehingga jenis gigi tiruan ini memerlukan perawatan yang lebih seksama, seperti selalu menyikatnya dengan sikat gigi lunak. Jangan menyikat gigi tiruan dengan sikat gigi yang keras karena akan mengakibatkan keausan. Akrilik juga mudah mengalami keausan, sehingga dengan pemakaian normal pun, dalam beberapa tahun gigi tiruan jenis ini harus diganti.

Untuk mengurangi risiko keausan, maka gigi tiruan akrilik bisa dikombinasikan dengan gigi tiruan porselen. Landasan maupun gigi buatan dari akrilik juga mudah patah, sehingga landasan gigi tiruan akrilik harus dibuat lebih tebal dan lebih luas. Hal itu mengakibatkan ketidaknyamanan, karena tertutupnya langit-langit akan mengganggu kontak lidah dengan langit-langit. Selain itu juga mengganggu bicara.

Apabila kehilangan gigi hanya di bagian belakang dan tidak terlalu banyak, daerah langit-langit yang berkontak dengan lidah dapat dibebaskan dari akrilik, tetapi bila gigi hilang terlalu banyak dan meliputi gigi depan, hal itu tidak dapat dilakukan. Untuk mengurangi ketebalan dan luasnya landasan, maka dapat digunakan gigi tiruan kerangka logam.

Gigi tiruan kerangka logam

Gigi tiruan ini terdiri dari landasan gigi tiruan dari logam sedang gigi buatannya dari akrilik atau porselen. Karena bahan logam cukup kuat, landasan gigi tiruan kerangka logam dapat dibuat lebih tipis dan lebih kecil sehingga si pemakai akan lebih nyaman. Kontak lidah dengan langit-langit tidak terlalu terganggu.

Logam yang dipergunakan merupakan campuran logam khusus yang memerlukan manipulasi lebih rumit, sehingga gigi tiruan ini lebih mahal dari gigi tiruan akrilik. Apabila patah pada bagian logam, tidak dapat disambung seperti akrilik, tetapi harus dibuat ulang. Akan tetapi apabila patah hanya gigi akriliknya saja bisa disambung/diganti akriliknya saja. Karena landasan logam harus dicoba dulu ketepatannya sebelum dipasang gigi-giginya, maka kunjungan pasien ke dokter gigi lebih banyak dari pemasangan gigi akrilik. Karena kekuatan logam, landasan gigi tiruan tidak terlalu terganggu oleh keadaan cairan/makanan di dalam rongga mulut, yang terpengaruh hanya bagian gigi buatannya.

Gigi tiruan mahkota/jaket

Gigi tiruan mahkota atau umum disebut jaket merupakan gigi tiruan yang dibuat untuk gigi yang belum dicabut tetapi mengalami kerusakan yang parah sehingga sudah tidak bisa ditambal lagi, tetapi syaraf giginya belum mati. Gigi yang rusak tersebut dikurangi sedemikian rupa dengan bentuk tertentu, kemudian diganti dengan bahan akrilik/porselen/ kombinasi logam-porselen yang menyerupai selubung/jaket yang bentuk dan warnanya disesuaikan dengan gigi sebelumnya atau menggunakan gigi sebelahnya sebagai panduan. Gigi tiruan ini tidak dapat dilepas oleh pasien karena ditempelkan langsung ke gigi dengan semen khusus.

Bahan gigi tiruan ini tergantung pada posisi dan kondisi giginya. Jaket porselen biasanya diberi penguat logam, jadi pengurangan gigi harus lebih banyak daripada akrilik. Keuntungan jaket porselen, warnanya lebih baik serta tahan aus dibanding akrilik. Tetapi lebih mahal karena proses pembuatannya lebih rumit.

Gigi tiruan pasak

Gigi tiruan pasak adalah gigi tiruan yang mengganti gigi yang belum dicabut tetapi mahkota gigi sudah rusak dan syaraf gigi sudah terinfeksi atau sudah mati, tetapi akar giginya masih utuh. Untuk membuat gigi pasak, terlebih dulu harus dilakukan perawatan syaraf dahulu sampai steril dalam beberapa kunjungan, sesudah itu baru dilakukan pembentukan konstruksi pasak. Gigi tiruan pasak terdiri dari bagian logam yang ditanam ke dalam akar gigi serta bagian di luar gigi sebagai pendukung mahkota. Setelah disemen ke dalam akar gigi, dibuat mahkota jaket seperti yang telah dikemukakan sebelumnya.

Gigi tiruan mahkota dan jembatan

Merupakan gigi tiruan untuk kasus kehilangan satu atau beberapa gigi yang tidak dapat dilepas sehingga pasien lebih nyaman, dan terhindar dari risiko gigi tiruan hilang. Tidak mengandung landasan yang akan mengganggu pengecapan lidah. Gigi tiruan ini terdiri dari pontik, yaitu pengganti gigi yang hilang serta penyangga. Penyangga gigi tiruan ini menggunakan gigi asli disebelahnya yang masih ada, dengan cara mengurangi/menggerinda gigi asli tersebut dengan bentuk seperti untuk membuat mahkota/jaket. Kemudian mahkota dibuat di gigi tersebut dan disambungkan dengan gigi yang diganti. Apabila gigi yang diganti lebih kecil dari gigi penyangga, gigi penyangga bisa hanya pada satu gigi. Bahan yang digunakan bisa dari akrilik dan porselen. Akan tetapi untuk gigi-gigi belakang yang tidak terlalu terlihat lebih baik digunakan bahan logam untuk kekuatan dan mencegah keausan.

Implan

Implan adalah gigi tiruan yang dibuat dengan menanamkan pasak khusus ke dalam tulang rahang yang telah kehilangan gigi. Fungsinya sebagai penyangga gigi tiruan. Untuk kehilangan satu gigi, pasak implan yang ditanam hanya satu, tetapi bila lebih bisa beberapa buah. Persyaratan untuk pembuatan implan ini lebih berat dibanding dengan gigi tiruan lain.

Di antaranya kesehatan umum pasien harus betul-betul prima serta tidak mempunyai penyakit-penyakit yang melemahkan seperti diabetes, kelainan tulang, dll. Struktur tulang untuk tempat ditanamnya pasak tersebut harus memunyai ketinggian tertentu serta kondisinya masih baik. Pasak implan dipasang melalui prosedur pembedahan sampai terjadi proses penyembuhan serta terdapat hubungan antara tulang dengan logam pasak. Apabila itu terjadi, maka setelah 6 bulan baru dipasang sekrup penyambung antara pasak dan mahkota dengan membuka lapisan mukosa gusi di ujung atas pasak.

Setelah sekrup terpasang ditunggu sampai sembuh luka jaringannya, kemudian dipasang pasak untuk penyangga mahkota, baru setelah itu dipasang mahkotanya. Dengan prosedur ini, pembuatan implan memerlukan waktu lebih dari 6 bulan, serta biaya yang lebih mahal karena memerlukan bahan-bahan khusus, seperti jenis logam pasak khusus yang dapat merangsang pertumbuhan tulang di sekitar pasak implan. Selain itu peralatan yang dipakai pun khusus dan memerlukan sterilitas tinggi. Keuntungannya gigi tiruan implan adalah tidak perlu dibuka/dilepas, dan tidak memerlukan gigi penyangga. Jadi dapat dipasang pada pasien yang telah kehilangan seluruh giginya. Seperti halnya mahkota dan jembatan, tidak ada daerah langit-langit yang tertutup landasan gigi tiruan. Sehingga persepsi rasa seperti gigi asli.

Pemakaian gigi tiruan tidak hanya mengganti gigi yang hilang, tetapi berfungsi sebagai pemelihara jaringan yang masih ada, yaitu jaringan gigi, gusi dan tulang. Sehingga pemakai gigi tiruan harus betul-betul memerhatikan kebersihan gigi tiruan dan gigi aslinya.

Pada pemakaian jaket, pasak, mahkota dan jembatan kebersihan di daerah gusi harus diperhatikan. Bila terjadi kerusakan gigi di daerah gusi akan mengakibatkan terjadinya kebocoran di daerah tersebut. Kebocoran lama-kelamaan akan menggerogoti bagian dalam gigi tiruan tersebut sehingga mahkota tidak terdukung. Gigi bisa tiba-tiba patah dan mahkota tidak dapat dipertahankan sehingga gigi harus dicabut.

Pemilihan setiap jenis gigi tiruan ini pada akhirnya tergantung dari kondisi dan situasi mulut pasien dan pertimbangan dokter gigi. Apabila semua jenis gigi tiruan ini memungkinkan, pertimbangan pun harus disesuaikan dengan kondisi keuangan Anda.


Sumber :
RASMI RIKMASARI, drg., Sp.Pros
Staf pengajar Ilmu Gigi Tiruan Fakultas Kedokteran Gigi Unpad.
http://www.pdgi-online.com/v2/index.php?option=com_content&task=view&id=580&Itemid=33

Pemutihan Gigi

Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang gigi sudah sedemikian pesatnya, termasuk di dalamnya keinginan untuk memparbaiki penampilan.

Dahulu ketika orang belum memperdulikan estetika, warna gig yang gelap bukanlah hal yang merisaukan, tetapi saat ini tidak ada lagi orang yang ingin membiarkan giginya tetap berwarna gelap. Oleh karena itulah prosedur pemutihan gigi menjadi populer saat ini dan banyak diminati oleh pasien dokter gigi. Bahkan di pasaran bebas banyak sekali produk pemutihan gigi yang diklaim bisa digunakan langsung oleh pembeli tanpa perlu bantuan dokter gigi.

Pemutihan gigi adalah upaya untuk mendapatkan warna gigi menjadi lebih cerah dengan menggunakan bahan-bahan pemutih gigi yang pertama kali diperkenalkan adalah Oxalic Acid oleh Chappel pada tahun 1877, karena hasilnya kurang memuaskan kemudian Harlan pada tahun 1884 memperkenalkan bahan baru yaitu Hidrogen Peroksida, bahan inilah yang sampai hari ini banyak digunakan dalam prosedur pemutihan gigi.

Hidrogen Peroksida (H2O2) pada kondisi alami berbentuk cair, bersifat asam, bila terurai akan menghasilkan air dan oksigen. Proses penutihan trjadi apabila pada bahan Hidrogen Peroksida dilakukan perubahan pH, suhu, atau cahaya untuk mendapatkan oksigen aktif yang bersifat elektrofilik. Elektrofilik berarti hanya memiliki satu elektron pada susunan kimianya sehingga ia akan berusaha mendapatkan pasangan elektron agar stabill. Oksigen aktif tertarik pada daerah yang kaya dengan ikatan ganda yaitu daerah interprismatik pada email gigi, disini akan terjadi pemutusan ikatan ganda menjadi ikatan yang lebih sederhana, secara visual terlihat sebagai perubahan warna kearah yang lebih terang.

Produk turunan hidrogen peroksida yang saat ini banyak dipasarkan adalah Karbamid Peroksida yang merupakan kombinasi Hidrogen peroksida dengan zat pembawa (Karbamid) berupa urea, karbopol, air, dan senyawa lainnya. Tambahan inilah yang menjadikan bahan pemutihan gigi berbentuk gel.

Dalam produk pemutihan gigi, Karbamid Perioksida hanya digunakan 10%-15%, sisanya adalah Sodium Stanat, Gliserin atau Propilen Glokol, serta penambah rasa. Merek dagang yang populer dipasaran untuk pemutihan gigi dengan kandungan seperti ini antara lain adalah Opalescence, Ultradent, Nu Pro Gold, Nite White, dan lain-lain.

Bahan pemutih gigig yang bisa digunakan langsung tanpa bantuan dokter gigi umumnya mengandung Karbamid Peroksida sebesar 3%. Beberapa merek dari produk ini adalah Rembrandt, Britesmile, dan Whitestrips.

Metode Pemutihan Gigi

Secara garis besar ada tiga metode dalam prosedur pemutihan gigi yaitu Supervised Home Dental Whitening adalah prosedur pemutihan gigi yang dilakukan oleh pasien sendiri dengan petunjuk dokter gigi. Prosedur ini dilakukan di rumah menjelang tidur ataupun pada siang hari saat menjalankan akrivitas kerja. Pemutihan dengan cara ini relatif aman karena konsentrasi bahanyang digunakan sedikit, namun waktu yang dibutuhkan cukup lama berkisar antara empat minggu sampai satu tahun.

In Office Dental Whitening adalah metode yang hanya dapat dilakukan oleh dokter gigi di tempat prakteknya karena menggunakan tinggi sehingga perlu penanganan dan pemantauan khusus. Namun waktu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil prosedur pemutihan tidak terlalu lama, hanya 1-2 kali kunjungan.

Metode yang ketiga adalah kombinasi keduanya, selain dilakukan pemutihan di tempat praktek oleh dokter gigi juga dilakukan prosedur pemutihan oleh pasien sendiri dengan petunjuk dokter gigi.
Indikator keberhasilan proses pemutihan gigi dilakukan dengan membandingkan warna gigi sebelum dan sesudah proses pemutihan dengan indikator Value Oriented Shade Guide. Perubahan warna sebagai penanda keberhasilan umumnya berkisar antara 5-12 shade. Sebagai contoh bila sebelumnya shade-nya C3 setelah perawatan berubah menjadi A2 berarti terjadi perubahan sebesar 9 shade.

Pemutihan gigi Vital

Sampai dengan tahun 1960 pemutihan gigi vital masih menjadi perdebatan, namun sekarang telah menjadi prosedur yang lazim dilakukan. Berbeda dengan gigi non vital, pada gigi vital umumnya pewarnaan yang terjadi meliputi seluruh gigi dengan derajat pewarnaan yang relatif sama. Keberhasilan pemutihan gigi vital sangat tergantung dari penyebab pewarnaan gigi, apakah karena faktor intriksik, ektrinsik, atau karena pertambahan usia. Namun secara kasar dapat diperkirakan gigi yang berwarna kuning paling memungkinkan dapat dirawat dengan hasil memuaskan, gigi coklat perlu waktu lebih lama, gigi biru keabuan umumnya tidak memberikan hasil memuaskan, multi warna disertai pita warna sangat sulit untuk diputihkan.

Pada gigi yang mengalami pewarnaan kuning dapat dirawat dengan metode Supervised Home Dental Whitening atau in office Dental Whitening. Untuk gigi dengan pewarnaan coklat, biru keabuan, serta multi warna yang disertai pita warna dapat dilakukan satu atau dua kali in office Dental Whitening yang diikuti dengan Survised Home Dental Whitening satu hingga dua bulan.

Supervised Home Dental Whitening didahuli dengan mouth preparation berupa perawatan, pencabutan, dan pembersihan sesuai indikasi. Kenudian dilakukan pencetakan untuk pembuatan tray yang akan digunakan untuk mengaplikasikan bahan pemutih. Tray yang sudah selesai kemudian di try-in, setelah pas perawatan dapat dimulai.

Prosedur in Office Dental dilakukan sesuai petunjuk pabrik masing-masing bahan. Umumnya setelah bahan diaplikasikan dilakukan penyiaran dengan cahaya dari alat khusus sebagai akselelator. Prosedur ini dilakukan dua sampai tiga kali dengan penyiaran setiap kalinya sekitar 20 menit. Lama dan keseuksesan pemutihan gigi sangat tergantung pada pewarnaan yang terjadi.

Perlu diperhatikan perlindungan terhadap pasien dan operator dari bahan pemutih serta cahaya akselelator yang digunakan. Umumnya bahan pemutih gigi memberikan reaksi sensitif.

Pemutihan Gigi Non Vital

Indikasi pemutihan gigi non vital adalah gigi nekrosis yang sudah mendapat perawatan endodontik dengan baik dan berhasil, terdapat pewarnaan intrinsik, tidak terdapat kelainan periodontal, memiliki ketebalan email dan dentin sehat yang cukup,serta tidak terdapat resorpsa internal maupun eksternal pada akar. Sedangkan kontra indikasinya adalah perawatan edodontik yang tidak baik dan atau tidak berhasil, email dan dentin dengan ketebalan sangat tipis, terdapat kelainan periodontal, serta sensitif terhadap bahan pemutih gigi.

Prosedur pemutihan dapat dilakukan dengan meletakan bahan pemutih di dalam kamar pulpa yang telah dipersiapkan, kemudian ditumpat dengan tambalan sementara,demikian berulang-ulang sampai didapat hasil yang diharapkan. Metode lain dilakukan diruang prakter dokter, dengan meletakan bahan pemutih di ruang pulpa kemudian diaktifkan dengan cahaya yang dihasilkan alat khusus.

Hal penting yang harus diperhatikan dalam pemutihan gigi non vital adalah membuat seal antara bahan pemutih dengan bahan pengisi saluran akar, dapat menggunakan glass ionomer, komposit, atau semen polilarbosilat.

Sumber :
http://www.pdgi-online.com/v2/index.php?option=com_content&task=view&id=763&Itemid=1

Materi Odol Agar Gigi Afdol

Belum afdol rasanya menggosok gigi tanpa menggunakan odol. Sebab, dengan pasta itu, gigi bisa tampak bersih, putih, kuat, hingga membuat napas menjadi segar.

Di pasar, pilihannya sangat beragam, dari rasa mint hingga buah-buahan. Malah satu produsen pasta gigi membikin spesifik produknya untuk gigi sensitif, herbal, putih, dan untuk gigi susu. Banyak kalangan bertanya-tanya. Apakah kandungan dalam odol yang katanya membuat gigi cemerlang itu efektif dan betul-betul aman dalam jangka waktu yang lama?

Namun, kegamangan akan hal itu sepertinya tidak menimpa presenter layar kaca Erwin Parengkuan dalam memilih odol untuk keluarga. Yang penting, bagi dia, adalah pasta gigi itu bisa membersihkan gigi dan menghilangkan plak dengan aman.

Meski yang membeli odol ternyata adalah sang istri, Jana Parengkuan, dia yakin mantan pacarnya itu tahu yang terbaik. "Kalau terbukti efektif membersihkan gigi, saya malas ganti-ganti (produk)," ujarnya seusai tampil menjadi bintang tamu dalam acara peluncuran produk pasta gigi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Dr Paulus Januar, drg, MS, dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), masyarakat sebaiknya memilih pasta gigi yang ukuran partikelnya tidak terlalu kasar, sehingga tidak membuat gigi iritasi.

Kemudian kandungan yang ada di dalamnya jangan sampai mengandung racun yang malah merugikan kesehatan si pengguna. Misalnya keracunan fluoride, (fluorosis) yang menyebabkan gigi menjadi cokelat. "Sampai saat ini penggunaan fluoride dalam pasta gigi memang masih pro dan kontra," ujar Paulus kepada Tempo, Selasa lalu.

Beberapa literatur menunjukkan bahwa keberadaan fluoride dalam odol sangat dibutuhkan. Kandungan ini diindikasikan dapat melindungi gigi dengan cara melapisinya agar tahan dari proses pembusukan. Kandungannya juga berperan sebagai efek detergen--pembersih--bagi gigi. Namun, dosis fluoride dalam odol sangat dibatasi. Standar Nasional Indonesia, seperti dilansir PDGI online, mensyaratkan kandungan fluoride dalam pasta gigi orang dewasa adalah 800-1.500 ppm. Sementara itu, fluoride dalam pasta gigi anak adalah 500-1.000 ppm.

Menurut Wakil Dekan IV Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Dr Tri Erri Astoeti, drg, MKes, beberapa studi memang mengatakan kandungan fluoride itu berbahaya. Jika fluoride dalam tubuh melebihi kadar semestinya, jelas bisa merugikan kesehatan. Apalagi, tutur Erri, seseorang tidak tahu berapa kadar fluoride yang mengendap dalam tubuh mereka.

"Kita tidak bisa mengontrol fluoride dalam air minum dan makanan," ucap Erri seusai menjadi pembicara dalam acara peluncuran produk pasta gigi di Jakarta beberapa waktu lalu. Pasta gigi adalah fluoride topikal, berbeda dengan fluoride yang bersumber dari makanan dan minuman. "Makanya, jangan sampai tertelan, dong, odolnya," ujarnya mengingatkan.

Dalam pasta gigi juga terkandung zat formalin, yang populer beberapa dalam tahun belakangan. Terlepas dari kontroversi yang ada sebelumnya, dokter berjilbab ini menjelaskan bahwa formalin digunakan untuk merawat fungsi semua kandungan dalam odol, sehingga kondisi produk tetap aman meski odol telah dibuka. Ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan adalah jika tidak melebihi 0,05 persen komposisi, formalin dalam pasta gigi tak perlu dicantumkan. Asumsinya, formalin dalam pasta gigi hingga kini masih dalam ambang batas aman.

Kemudian produsen pasta gigi juga menggandeng bahan-bahan herbal, meski dalam penelitian Inne Suherna Sasmita dan kawan-kawan, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Bandung, berjudul Gambaran Efek Pasta Gigi yang Mengandung Herbal terhadap Penurunan Indeks Plak pada 2006 mendapati bahwa bahan tumbuhan yang ditambahkan ke dalam pasta gigi, seperti lidah buaya, jeruk nipis, dan daun sirih, tidak berpengaruh signifikan terhadap penurunan indeks plak--ketimbang pasta gigi tanpa herbal.

Hal itu disimpulkan Inne setelah mengkaji 30 orang siswa Pesantren Modern Al-Aqsha Jatinangor. Hasilnya, dua kelompok yang menggunakan odol dengan dan tanpa herbal memiliki efektivitas yang sama terhadap penurunan indeks plak gigi.

Selanjutnya, studi yang teranyar adalah pemakaian kandungan mikro kalsium dalam pasta gigi. Produsen pasta gigi yang mencampurkan bahan itu mengklaim bahwa mikro kalsium yang menempel pada lapisan plak gigi secara berkala melepaskan kalsium, sehingga bisa meningkatkan kadar kalsium di dalam mulut sekitar 50-100 persen.

Jumlah kalsium dalam mulut yang banyak ini diasumsikan akan membantu penyerapan kalsium lebih baik. Nah, pengikisan kalsium saat seseorang mengkonsumsi makanan kariogenik--asam dan gula--dijadikan dasar untuk fungsi mikro kalsium dalam pasta gigi.

Menurut Erri, pada gigi ada mineral, yang di antaranya kalsium, fosfat, dan fluore. Pada saat terjadi demineralisasi--yaitu saat gula difermentasi oleh kuman dan gigi menjadi asam--mineral itu lepas semua. Kandungan-kandungan penting dalam mineral pergi sementara. Jadi harus cepat diganti dengan makanan yang mengandung fluore dan kalsium.

"Nah, kalsium dan fluoride itu bisa menggantikan kandungan mineral yang hilang. Proses demineralisasi, dijelaskan oleh dokter flamboyan ini, biasanya berlangsung selama 30 menit. "Saat itulah merupakan potensi terbentuknya titik-titik lubang."

Karena itu, para ahli menganjurkan setiap orang langsung menyikat gigi setelah makan, supaya lubang-lubang yang berpotensi terbentuk itu jadi tertutup. Jika gigi terbengkalai hingga terbawa tidur selama berjam-jam, bisa dibayangkan proses keasaman yang terjadi di dalam mulut. Keasaman menjadi tetap dan tidak naik. "Mulut itu PH normalnya adalah 7. Makin PH-nya turun, maka semakin asam mulut tersebut," Erri menerangkan. Karena itu, hindari makanan tersisa di gigi saat akan tidur.

Penjelasan dari Erri itu mendorong Erwin mendisiplinkan ketiga buah hatinya untuk selalu menggosok gigi. Dia kerap membopong ketiga anaknya yang berusia 10, 7, dan 3 tahun itu ke wastafel untuk menggosok gigi sebelum tidur. "Yang paling kecil masih sulit diajak," pria kelahiran Manado ini menjelaskan. Selain itu, Erwin mengontrol konsumsi makanan yang mengandung gula bagi mereka. "Saya selalu ajari mereka untuk menyikat gigi minimal dua kali sehari."

Adapun Erri menyarankan masyarakat untuk menyikat gigi minimal dua kali sehari, yaitu sesudah makan dan sebelum tidur. "Tidak ada maksimalnya," katanya. Yang lebih penting bukan kuantitasnya, melainkan kualitasnya. Dari laporan Departemen Kesehatan, didapati bahwa masih lebih dari 60 persen penduduk Indonesia salah dalam menyikat gigi. "Baik waktu maupun cara menyikat giginya."

Sebenarnya, selain tiga kandungan di atas, masih ada kandungan lain dalam pasta gigi, yaitu pemutih. Namun, pemutih cuma estetika. Sebab, warna gigi seseorang berbeda-beda, tergantung warna kulit. Orang berkulit putih umumnya bergigi keabu-abuan, lalu gigi orang berkulit hitam cenderung putih, sedangkan gigi orang berkulit sawo matang biasanya berwarna kuning. Demikian kata Ketua PDGI drg Zaura Rini Matram, seperti yang pernah dikutip Tempo.


Sumber :
HERU TRIYONO
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/08/13/brk,20090813-192354,id.html
13 Agustus 2009

Tujuh Mitos dan Fakta Seputar Gigi Berlubang

APAKAH Anda selalu menghindari lemon karena takut kandungan asamnya merusak gigi? Atau, Anda sangat membatasi konsumsi gula karena takut gigi berlubang? Hal ini tidak sepenuhnya benar, namun umumnya sangat diyakini di tengah-tengah masyarakat. Untuk membantu Anda mendapatkan pemahaman yang tepat, berikut beberapa mitos dan faktar seputar gigi berlubang menurut Kimberly A. Harms, DDS, seorang consumer advisor American Dental Association.

1. Gula merupakan penyebab utama gigi berlubang

Mitos dan fakta. Gigi berlubang disebabkan oleh asam yang diproduksi oleh bakteri di dalam mulut. Bakteri akan mengonsumsi karbohidrat, yang salah satunya adalah gula. Makanan lain seperti beras, kentang, roti, buah-buahan dan sayuran juga termasuk karbohidrat. Saat Anda mengonsumsi makanan ini, bakteri akan aktif dan memproduksi asam yang bersifat melubangi gigi.

"Begitu terbentuk lubang kecil, maka bakteri akan mempunyai tempat aman yang tidak bisa dijangkau oleh sikat gigi," terang Harm. Bakteri ini akan terus mengolah karbohidrat, menghasilkan asam, sehingga lubang di gigi semakin melebar.

Apakah konsumsi karbohidrat harus dikurangi? Menurut Harm, bukan jumlahnya tetapi lama paparan yang mempengaruhi kerusakan gigi. Jika Anda makan banyak karbohidrat saat makan siang, itu hanyalah satu paparan besar. Tapi, jika Anda terus-terusan minum minuman bergula sepanjang hari, maka dikatakan paparan berkelanjutan."Dan ini jauh lebih membahayakan kesehatan gigi."

2. Terpapar makanan asam seperti lemon bisa merusak gigi

Fakta. Makanan asam seperti lemon, jeruk sitrus, atau minuman ringan tidak menyebabkan gigi berlubang. Tetapi makanan ini bisa membahayakan email gigi."Asam bisa mengikis lapisan email pelindung gigi dan membuat gigi jadi rapuh," terang Harm. Jika Anda kehilangan lapisan pelindung, maka gigi cenderung lebih mudah rusak.

3. Anak-anak berisiko lebih besar menderita gigi berlubang dibandingkan orang dewasa

Mitos. Kerusakan gigi pada anak selama 20 tahun terakhir, menurut Harm, telah bisa dikurangi hingga setengahnya dengan bantuan air yang mengandung fluor beserta perawatan lainnya.

Di sisi lain, jumlah gigi berlubang justru meningkat pada orang dewasa. Peningkatan ini, menurut Harm, dipicu oleh berbagai hal termasuk penggunaan obat yang bersifat mengeringkan mulut dengan cara mengurangi air liur. Air liur sangat penting dalam melawan kerusakan gigi dengan cara menetralkan asam, mengeluarkan bakteri, mencegah makanan lengket ke gigi, serta mengandung komponen yang bersifat desinfektan.

4. Aspirin yang ditempatkan di samping gigi akan membantu meredakan sakit gigi

Mitos. Anda bisa meredakan sakit gigi dengan cara menelan aspirin. Aspirin, menurut Harm, bersifat asam dan jika diletakkan di samping gigi justru akan membakar jaringan gusi dan menyebabkan bengkak."Jadi, jangan melakukan hal ini, pastikan menelan aspirin tersebut."

5. Anda akan tahu saat gigi mulai berlubang

Mitos. Menurut Harm, pernyataan ini hanyalah mitos semata. Kerusakan gigi ringan, terang dia, tidak menimbulkan gejala. Rasa sakit yang dirasakan muncul setelah gigi mengalami kerusakan parah dan menyebabkan kerusakan saraf. Dan sekali gigi mengalami kerusakan, lanjut harm, gigi tidak akan bisa memperbaiki dirinya sendiri. Gigi berlubang akan terus melebar. Karena itu, pastikan memeriksakan gigi secara teratur.

6. Begitu gigi diobati, maka kerusakan pun akan turut berhenti

Fakta. Menurut Harm, Anda mungkin kembali mengalami kerusakan gigi tetapi di area gigi yang lain. Bagian rusak yang telah diperbaiki dan dirawat dengan cara menggosok dan flossing biasanya tidak akan mengalami kerusakan kembali.

Akan tetapi, bahan yang digunakan untuk menutup lubang (filling) bisa saja bertambah tua dan batas perlekatannya dengan gigi menjadi retak. Dan karena area tersebut tidak bisa dicapai oleh sikat gigi, maka bakteri bisa masuk dan kembali memicu kerusakan baru.

7. Ruang di antara gigi mempengaruhi kemungkinan gigi berlubang

Fakta. Jika ada jarak kecil antara gigi yang satu dengan yang lain dan tidak bisa dibersihkan, maka Anda lebih berisiko mengalami gigi berlubang."Jarak yang lebih besar lebih mudah untuk dibersihkan, dan sepanjang ruang renggang ini bebas bakteri, kemungkinan gigi berlubang pada jarak yang lebar lebih kecil." (OL-08)


Sumber :
Ika Rowina Tarigan
http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2009/08/22/1535/5/Tujuh-Mitos-dan-Fakta-Seputar-Gigi-Berlubang
22 Agustus 2009

Gigi Kawat yang Terawat

Sebenarnya, penggunaan kawat gigi berfungsi untuk memperbaiki posisi gigi kita yang tidak benar (proporsional) dan tidak rata. Hal itu banyak dilakukan untuk mendapatkan senyum manis yang sempurna. Perawatan yang tidak baik justru menjadi pemicu terjadinya kerusakan pada kawat dan gigi itu sendiri, sehingga membuatnya menjadi tidak nyaman waktu dipakai. Mempelajari dasar-dasar pemeliharaan kawat gigi dapat membantu untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi.

1. Bersiap untuk menyikat gigi. Lepaskan semua “aksesori” pendukung, seperti karet gigi dan peralatan orthodontik lainnya sebelum menyikat gigi.

2. Bersihkan kawat. Genggam sikat gigi dan buat sudut 45 derajat untuk membersihkan kotoran dan plak yang ada di daerah sekitar kawat dan pin. Lakukan gerakan menyikat dari atas ke bawah pada setiap gigi. Ambil waktu sedikit untuk memastikan semua plak dan kotoran sudah tuntas dibersihkan. Lakukan hal yang sama pada gigi di bagian geraham lainnya.

3. Sikat gigi. Bersihkan tiap gigi kita satu-persatu. Pertama, arahkan sikat gigi kita 45 derajat ke arah gusi, lakukan penyikatan dengan gerakan memutar secara perlahan-lahan selama 10 detik. Lakukan gerakan ini pada semua bagian permukaan gigi (depan dan belakang). Turunkan sikat jika perlu untuk menggapai bagian dalam dari gigi depan yang kecil.

4. Rutin flossing. Gunakan benang gigi yang sudah didesain untuk gigi berkawat. Lakukan secara rutin 1 kali sehari.

5. Cuci dan periksa. Berkumurlah dengan air atau obat kumur. Setelah selesai, periksa kembali gigi kita di depan kaca untuk memastikan semua bagian sudah bersih.

(Astrid Anastasia/Prevention Indonesia)


Sumber :
http://female.kompas.com/read/xml/2009/09/13/16341030/Gigi.Kawat.yang.Terawat
13`September 2009

Obat Alami Sakit Gigi

Sakit gigi merupakan gangguan kesehatan yang umum terjadi dan seringkali muncul tanpa gejala sebelumnya. Rasa sakitnya yang bervariasi mulai dari tajam, berdenyut, hingga konstan.

Rasa sakit yang ditimbulkan sangat mengganggu. Belum lagi, jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, kerusakan gigi akan bertambah parah sehingga harus dicabut. Ada beberapa obat alami yang bisa Anda coba untuk meredakan sakit gigi.

Bawang putih
Bawang putih efektif meredakan sakit gigi. Caranya, haluskan satu siung bawang putih dicampurkan dengan sedikit garam kasar kemudian tempatkan di area yang sakit. Sebagai tindakan pencegahan, kunyah satu siung bawang putih setiap pagi.

Bawang merah
Bawang merah mengandung komponen antibakteri. Mengonsumsi satu bawang merah setiap hari dengan cara mengunyah terbukti bisa melindungi dari berbagai gangguan gigi. Mengunyah bawang merah selama 3 menit cukup untuk membunuh semua kuman di mulut. Dan Anda bisa meredakan gigi yang sedang sakit dengan cara menempatkan sepotong kecil bawang merah di area gigi atau gusi yang sakit.

Jeruk limau
Jeruk limau, sebagai sumber yang kaya vitamin C, sangat bermanfaat mempertahankan kesehatan gigi dan tulang di bagian tubuh lainnya. Jeruk limau dinyatakan bisa mencegah gigi berlubang dan gigi tanggal, pembentukan plak gigi, sakit gigi, dan perdarahan pada gusi.

Minyak cengkeh
Cengkeh efektif meredakan sakit gigi, juga mengurangi infeksi karena mengandung antiseptik. Caranya, oleskan minyak cengkeh ke lubang gigi yang mengalami kerusakan.

Tepung lada
Campuran sedikit tepung lada dengan 1/4 sendok teh garam sangat bagus untuk menjaga kebersihan gigi. Jika digunakan secara teratur setiap hari bisa mencegah gigi berlubang, nafas bau, gusi berdarah, sakit gusi, dan sakit gigi. Untuk meredakan sakit gigi, Anda bisa menempatkan campuran tepung lada dan minyak cengkeh ke dalam lubang gigi. (MHS/dila)


Sumber :
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/sehat/2009/08/28/405/Obat.Alami.Sakit.Gigi
28 Agustus 2009

Gigi Berlubang, Cabut Atau Rawat?

Apakah ada gigi Anda yang berlubang? Atau malah sudah pernah merasakan sakit gigi, ngilu, nyut-nyutan dan mahkota gigi sudah keropos dan tidak utuh lagi. Lantas tindakan apa yang dilakukan, minum obat, atau tempelkan koyo di pipi, berobat ke dokter gigi atau malah dibiarkan saja hingga rasa sakit hilang dengan sendirinya?

Kalau gigi sudah berlubang besar, apalagi kalau sudah pernah sakit dan mengganggu, sebagian besar orang mungkin akan berpikir masalah akan selesai. Terutama, datang ke dokter gigi dan meminta agar gigi tersebut dicabut saja. Atau, bila sudah tidak sakit lagi dibiarkan saja. Terlebih, tidak ada keluhan apa-apa, berarti gigi tersebut sudah sembuh. Namun sebetulnya tidak demikian.

Gigi yang berlubang akan menimbulkan sakit berdenyut kalau sudah mencapai ruang pulpa yang isinya adalah jaringan syaraf dan pembuluh darah. Bila tidak dirawat, infeksi bisa menyebar ke jaringan di bawah gigi dan menimbulkan abses. Abses berisi nanah, dan menyebabkan pembengkakan di gusi. Pada kasus-kasus tertentu abses ini bisa besar sekali hingga pipi menjadi bengkak. Gigi yang sedang sakit dan mengalami abses tidak boleh langsung dicabut karena infeksi yang terjadi sedang dalam fase akut. Rasa sakit dan abses harus diredakan dulu, dengan minum obat antibiotik sesuai resep dokter.

Minum obat penghilang rasa sakit yang dapat dibeli dengan mudah di toko obat atau apotek mungkin ampuh untuk mengusir rasa sakit yang menyiksa. Namun tidak menghilangkan infeksi yang terjadi pada gigi penyebab. Suatu saat rasa sakit mungkin akan timbul lagi, selama gigi penyebab tidak dirawat dengan tuntas.

Gigi berlubang yang sudah pernah sakit berdenyut spontan lalu dibiarkan tidak dirawat kemudian rasa sakit itu hilang, besar kemungkinan syaraf gigi sudah mati. Dengan kata lain, infeksi gigi sudah mencapai daerah di ujung akar dan menyebabkan abses. Pencabutan adalah pilihan perawatan yang terakhir. Apalagi, bila tindakan konservatif dan preservatif sudah tidak dapat lagi dilakukan.

Cabut Gigi Selesaikan Masalah?

Adakah kerugian bila satu gigi yang hilang karena dicabut? Toh, masih bisa makan. Senyum juga masih oke, yang hilang kan gigi belakang. Atau akar gigi yang masih tersisa dibiarkan saja, selama tidak sakit dan tidak ada keluhan berarti tak masalah. Boleh jadi, demikian pikiran sebagian besar orang. Bagaimana yang sesungguhnya?

Ambil contoh gigi yang dicabut adalah salah satu gigi geraham bawah. Seiring waktu, gigi antagonisnya (gigi geraham atas) dapat turun dan memanjang karena gigi lawannya tidak ada. Gaya kunyah kita menyebabkan gigi cenderung semakin maju seiring dengan bertambahnya usia. Itulah sebabnya posisi gigi tidak selalu tetap.

Mungkin pula posisi gigi saat seseorang mencapai usia tua mengalami perubahan bila dibandingkan sewaktu muda. Gigi di sebelah gigi yang dicabut juga dapat berubah posisi, yaitu miring ke arah gigi yang hilang. Awalnya, mungkin dampaknya tidak akan terlalu terasa. Namun kondisi ini akan mengganggu fungsi kunyah dan pada beberapa kasus yang berat dapat menyebabkan perubahan posisi gigi-gigi lain hingga ketidaknyamanan pada sendi rahang.

Karena ada gigi yang hilang, biasanya mengunyah pada sisi tersebut jadi tak nyaman. Akibatnya mengunyah hanya pada satu sisi saja. Padahal hal tersebut merugikan karena sisi yang tidak dipakai mengunyah justru lebih kotor daripada sisi yang digunakan untuk mengunyah. Ini lantaran aliran air liur di sisi tersebut lebih sedikit.

Pengunyahan akan menstimulasi keluarnya air liur. Keberadaan air liur sangat penting, salah satu fungsinya adalah untuk membilas kotoran dan sisa makanan. Karakteristik orang yang mengunyah satu sisi adalah karang gigi yang terbentuk lebih banyak pada sisi yang tidak digunakan untuk mengunyah.

Perawatan Saluran Akar

Lubang gigi yang sudah mencapai pulpa tidak lagi dapat sekadar ditutup dengan bahan tambal. Sebelumnya, harus dilakukan perawatan saluran akar (endodontic treatment ataupun root canal treatment). Saluran akar harus dibersihkan agar steril dan bebas dari infeksi kuman. Lalu, saluran akar tersebut diisi dengan bahan pengisi saluran akar agar mencegah kontaminasi bakteri.

Setelah melewati beberapa hari dan saat pasien datang untuk kontrol tidak ada keluhan, lubang yang menganga pada gigi tersebut ditutup dengan restorasi. Ada beberapa jenis restorasi yang dapat dipilih, bergantung pada kondisi gigi. Mahkota yang dinding-dinding tegaknya masih utuh dapat dibuatkan tambalan dengan logam tuang yang dikerjakan di laboratorium, atau mahkota tiruan bila sudah banyak jaringan mahkota gigi yang hilang.

Memang perawatan ini memerlukan kesabaran baik dari dokter gigi maupun pasien. Sebab, biasanya penyelesaiannya membutuhkan lebih dari satu kali kunjungan. Biayanya pun tidak kecil. Namun setidaknya dapat memperpanjang usia gigi tersebut berada dalam mulut.

Kesimpulannya, keputusan untuk menjawab pertanyaan yang menjadi judul dari artikel ini ada di tangan Anda.(ANS)


Sumber :
drg Martha Mozartha
http://kesehatan.liputan6.com/tips/200909/243395/Gigi.Berlubang.Cabut.Atau.Rawat.
7 September 2009